Menjadi Tamu di Jabal Akhi alias Brother Mountain (BroMo)

Saya bukan tipe pendaki gunung, itu yang pertama harus saya katakan, tapi mungkin untuk yang sudah lama mengenal saya sudah faham akan hal tersebut. Walau pernah dulu, ketika usia belum menyentuh kepala tiga, mendaki gunung. Pertama saya daki adalah Gunung Kelud di Jawa Timur kedua Gunung Gede, satu kali sampai di puncaknya dan beberapa kali sampai di air terjunnya saja dan terakhir ke Bromo.

Pendakian yang paling sulit saya rasakan ya ketika jajal ikut-ikutan kakak kelas kuliah mendaki Gunung Gede karena tidak pengalaman perjalanan yang seharusnya memakan waktu beberapa jam saja untuk mencapai puncaknya harus ditempuh dua kali lipat nya, untung saja yang sudah biasa mendaki sabar menanti.

Pendakian ke Gunung Kelud dan Bromo yang paling saya suka karena ya itu, anda pasti faham sekali, tidak perlu jalan kaki cukup jauh untuk menikmati pemandangan di atasnya :). Perjalanan ke Gunung Kelud saya tempuh bersama para sepupu dengan menumpang mobil minibus keluarga lalu dilanjutkan menumpang dengan truk proyek yang saat itu kebetulan sedang menggarap kawah Gunung Kelud. Sedangkan ke Bromo, setelah tidur sejam-dua jam di hotel kelas melati lantas di jemput jip sampai ke kaki Penanjakan, lalu lanjut ojek sampai di bawah tangga-nya.

Baiklah, susah atau mudah mencapai puncak gunung mungkin bukan hal yang penting. Tetapi satu hal, baik itu Gunung Gede, Gunung Kelud ataupun Gunung Bromo semuanya menawarkan pemandangan yang menggerakkan lidah saya untuk mengucapkan “subhanallah”. Karena pemandangan yang selama ini hanya dapat dilihat pada postcard atau layar monitor saat itu terpampang nyata di depan mata sambil kadang fikiran saya menyangka ini semua tidak nyata dan saya sedang menatap layar TV ukuran 1000 inchi!

Berikut jepretan saya ketika di Penanjakan, Bromo. Bonus foto-foto saat ke Blitar. Enjoy!



Leave a Reply